Tampilkan postingan dengan label permata kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label permata kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2012

Kisah Nyata: Peristiwa Aneh Sebuah Jenazah di Jawa Timur

0 komentar

Ini adalah kisah nyata, kisah proses penguburan seorang pejabat di sebuah kota di Jawa Timur. Nama dan alamat sengaja tidak disebutkan untuk menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan. Insya Allah kisah ini menjadi hikmah dan cermin bagi kita semua sebelum ajal menjemput.
Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Modin (pengurus jenazah) kepada saya. Dengan gaya bertutur, selengkapnya ceritanya begini:
Saya terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun, berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau kurun waktu tersebut macam-macam jenis mayat sudah saya tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya. Bagaimanapun, pengalaman mengurus satu jenazah seorang pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya dapat kesempatan ‘istimewa’ sepanjang hidup. Inilah pertama saya bertemu cukup aneh, menyedihkan, menakutkan dan sekaligus memberikan banyak hikmah.
Sebagai Modin tetap di desa, saya diminta oleh anak almarhum mengurus jenazah Bapaknya. Saya terus pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah almarhumtercium bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut dan menjijikan. Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini. Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh. Saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam-macam perasaan takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya seperti tidak mendapat nur dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kemudian saya pun ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya potong. Secara kebetulan pula, disitu ada dua orang yang pernah mengikuti kursus “fardu kifayah” atau pengurus jenazah yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka mambantu saya dan mereka setuju.
Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun terjadi, sekedar untuk pengetahuan pembaca, apabila memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran yang tersisa. Maka saya pun urut-urut perut almarhum.
Tapi apa yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari tersebut, kotoran tidak keluar dari dubur akan tetapi melalui mulutnya. Hati saya berdebar-debar. Apa yang sedang terjadi di depan saya ini? Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya mengurut perutnya untuk kali terakhir.
Tiba-tiba ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berlaku, ketika saya urut perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia akibat diserang jantung dan waktu kematiannya dalam tempo yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa ? saya lihat wajah anak almarhum.
Mereka seperti terkejut. Mungkin malu, terperanjat dan aib dengan apa yang berlaku pada Bapaknya,kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka,”Inilah ujian Allah terhadap kita”. Kemudian saya minta salah satu seorang dari pada pembantu tadi pergi memanggil semua anak almarhum.
Almarhum pada dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya nasehati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwasanya tanggung jawab saya adalah membantu menguruskan jenazah Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada pada ahli warisnya.
Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih afdal menguruskan jenazah Bapak mereka itu, bukan hanya iman, hanya bilal, atau guru. Saya kemudian meminta ijin serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu. Takdir Allah ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari penutup saji meja makan. Subhanallah suasana menjadi makin panik. Benar-benar kejadian yang luar biasa sulit diterima akal pikiran manusia biasa. Saya terus berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut dan saya ambilkan wudhu. Saya meminta anak-anaknya kain kafan.
Saya bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang pun melihat upacara itu terkecuali waris yang terdekat sebab saya takut kejadian yang lebih aib akan terjadi. Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke kamar dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan, ketika mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala dan kaki tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan kaki.
Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain kafan itu tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang khilaf dikala memotongnya. Lalu saya ambil pula kain, saya potong dan tampung di tempat-tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung-menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa kepada Allah “Ya Allah, jangan kau hinakan jenazah ini ya Allah, cukuplah sekedar peringatan kepada hamba-Mu ini.”
Selepas itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi, satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat dihantar ke tanah pekuburan karena tidak ada mobil jenazah/mobil ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan sebagainya, tapi susah. Semua sedang terpakai, beberapa tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari satu karena kereta yang ada sedang digunakan pula.
Suatu hal yang saya pikir bukan sekedar kebetulan. Dalam keadaan itu seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis mobil pick-up dari garasi rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya itu dirumah almarhum, tiba-tiba istrinya keluar. Dengan suara yang tegas dia berkata dikhalayak ramai: “Mas, saya tidak perbolehkan mobil kita ini digunakan untuk angkat jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia tidak pernah mengijinkan kita naik mobilnya.” Renungkanlah kalau tidak ada apa-apanya, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian. Jadi saya suruh tuan yg punya van itu membawa kembali vannya.
Selepas itu muncul pula seorang lelaki menawarkan bantuannya. Lelaki itu mengaku dia anak murid saya. Dia meminta ijin saya dalam 10-15 menit membersihkan mobilnya itu. Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu,muncul mobil tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang dimaksudkan itu sebenarnya lori. Dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar, dalam perjalanan menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup tinggal di camping saja akan lebih baik. Saya tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil. Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi, takdir Allah yang terakhir amat memilukan.
Sesampainya Jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan jenazah. Allah berkehendak semua atas makhluk ciptaan-Nya berlaku, saat jenazah itu menyentuh ke tanah tiba-tiba air hitam yang busuk baunya keluar dari celah tanah yang pada asal mulanya kering.
Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana datang air itu? sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti dengan hati-hati. Saya takut nanti ia terlentang atau telungkup na’udzubillah. Kalau mayat terlungkup, tak ada harapan untuk mendapat safa’at Nabi. Papan keranda diturunkan dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami injak-injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becek. Saya tahu, jenazah yang ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu.
Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti menginjak tanah itu. Tinggalkan lobang kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak ditimbun hingga ke permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang. Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin, saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air.
Masya Allah, dalam sejarah peristiwa seperti itu terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk selesaikan penguburan secepat mungkin.
Sejak lama terlibat dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak talqimkan. Saya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas. Setelah saya pulang ke rumah almarhum dan mengumpulkan keluarganya. Saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang telah dilakukan oleh almarhum semasa hayatnya.
1. Apakah dia pernah menzalimi orang alim ?
2. Mendapat harta secara merampas, menipu dan mengambil yang bukan haknya?
3. Memakan harta masjid dan anak yatim ?
4. Menyalahkan jabatan untuk kepentingan sendiri ?
5. Tidak pernah mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq ?
Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan mungkin dia malu Untuk memberi tahu, saya tinggalkan nomor telepon rumah. Tapi sedihnya hingga sekarang, tidak seorang pun anak almarhum menghubungi saya. Untuk pengetahuan umum, anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi hingga ada seorang yg beristrikan orang Amerika, seorang dapat istri orang Australia dan seorang lagi istrinya orang Jepang.
Peristiwa ini akan tetap saya ingat. Dan kisah ini benar-benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol. Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala pencipta jagad raya ini.
اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ
Artinya : “Ya Alloh, akhirilah hidup kami dengan Islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah”
Wallahu ’alam bishshowab, ..
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya … Aamiin
© fb Agust Alfaqir publish kembali oleh Moslemsunnah.Wordpress.com (full tanpa edit)
Catatan: Mengenai ucapan al marhum, jika maknanya pemberitaan tentang keadaan si mayit bahwa ia telah mendapatkan rahmat dari Allah, maka ini HARAM. Karena ucapan ini berarti sama dengan memastikan bahwa si fulan termasuk penduduk surga. Padahal ini termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah dan orang-orang yang diberitahu oleh Allah Azza wa Jalla.
Syaikh Bin Baz mengatakan, Ahlus Sunnah Wal Jamaah berkeyakinan, sesungguhnya tidak diperbolehkan memberikan persaksian atas diri seseorang -bahwa orang itu di syurga atau di neraka- kecuali yang telah dijelaskan dalam nash Al Quran, seperti Abu Lahb (sebagai penghuni neraka), dan orang yang dipersaksikan Rasulullah sebagai penghuni syurga, seperti sepuluh sahabat (yang diberitakan akan masuk syurga) atau yang semisalnya. Demikian juga (tidak diperbolehkan) persaksian atas seseorang bahwa ia maghfur lahu (mendapatkan ampunan) atau al marhum (mendapatkan rahmat). Oleh karena itu, sebagai ganti dari ucapan al marhum dan al maghfur, sebaiknya diucapkan:
Semoga Allah mengampuninya, atau Semoga Allah merahmatinya. Atau ungkapan sejenis yang termasuk doa bagi si mayit. Lihat Majmu Fatawa Wa Maqalatu Mutanawwiah, 4/335.
Untuk menghindari kesalahan dalam memahami, semestinya jika kalimat al marhumdiganti dengan rahimahullah, ghafarallahu lahu, Allahu yarhamuhu atau sejenisnya yang merupakan doa. Demikian, semoga bermanfaat bagi kita. Wallahu a’lam. [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun VIII/1425H/2006M.
Read more...

Senin, 24 September 2012

Kisah Gadis Kecil Yang Shalihah

0 komentar

Oleh: Ummu Mariah Iman Zuhair
Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya.
Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:
Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.
Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut.

Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang perpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang ma’ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.
Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.
Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:
Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata: “Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!”
Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: “Mama, aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam.” Maka akupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.
Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.
Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?
Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: “Sakit ringan di kakiku.” Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab: “Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah.” Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah sakit.
Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.
Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat bergembira dan berkata: “Alhamdulillah… alhamdulillah… alhamdulillah.” Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: “Wahai ummi, alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku.”
Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!
Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjamah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!
Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.
Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: “Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku.”
Kami (aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk yang pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya: “Apakah engkau seorang muslimah?” Dia menjawab: “Tidak.”
Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar yang kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.
Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orang tuanya.
Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui Messenger. Afnan bertanya kepadanya: “Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?” Maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untuk memasang kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: “Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna.” Temanku tersebut berkata: “Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan. Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati.”
Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!
Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.
Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu’ dan shalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!
Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.
Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.
Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum. Dia berkata: “Ummi, kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat.” Kukatakan: “(Mimpi) yang baik Insya Allah.” Dia berkata: “Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau, dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi.”
Akupun bertanya kepadanya: “Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut.” Dia menjawab: “Aku menyangka, bahwasannya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku.” Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.
Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata: “Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu.” Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata: “Aku ingin mencium pipimu yang kedua.” Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: “Afnan, ucapkanlah la ilaaha illallah.”
Maka dia berkata: “Asyhadu alla ilaaha illallah.”
Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallaah.” Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian dia berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.” Dan keluarlah rohnya.
Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi rabbil ‘aalamin. (AR)*
Read more...

Sabtu, 11 Agustus 2012

Abdullah bin Amr: Syuhada Uhud yang Berbicara dengan Allah tanpa Hijab

0 komentar


VOA-ISLAM.COM - Abdullah bin Amr bin Haram  atau biasa disebut Abu Jabir bin Abdullah adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berbaiat pada saat baiat ‘aqabah ke dua. Ia diangkat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wakil dari Bani Salamah yang termasuk suku Khazraj.
Usai baiat aqabah ke dua ia kembali ke Madinah, jiwa raga dan harta bendanya ia korbankan sebagai baktinnya untuk Islam. Apalagi, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, maka ia mendapatkan nasib baik dengan memiliki kesempatan untuk selalu bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik siang maupun malam.
Read more...

Rabu, 01 Agustus 2012

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam #13: Muadzin pertama di negeri Transoxiana

0 komentar


(Arrahmah.com) – Sejarah Islam mencatat sosok ulama dan ahli ibadah ini sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan di negeri Transoxiana, wilayah Asia Tengah yang berada di belakang sungai Amu Darya dan Syr Darya. Sekarang ini, sebagian besar negeri Transoxiana telah menjadi negara Uzbekistan, dan sebagian kecilnya menjadi wilayah negara Kazakhstan, Tajikistan dan Turkmenistan. Di antara kota-kota pentingnya adalah Bukhara, Samarkand, Shaghad dan Taskent.
Ia dilahirkan pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam namun tidak pernah bertemu beliau Shallallahu 'alaihi wa salam. Ia menginjak usia remaja dan masuk Islam pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu 'anhu. Hal itu karena status dirinya sebagai seorang budak milik seorang wanita Bani Tamim dan baru dimerdekakan pada zaman khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu 'anhu.
Read more...

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam #12: Tugas hakim dan pegawai pajak

0 komentar


(Arrahmah.com) – Masa kepemimpinan khalifah Umar bin Abdul Aziz hanya dua tahun saja, 99-101 H. Meski demikian Khilafah Umawiyah pada masa tersebut mencapai puncak kejayaan, keadilan, kemakmuran dan keamanan. Para ulama sejarah sampai menahbiskan beliau sebagai khulafa' rasyidin kelima.
Dalam memerintah, khalifah Umar bin Abdul Aziz sangat selektif memilih pejabat negara. Hanya orang yang bertakwa, berilmu, berakhlak mulia dan ahli di bidangnya saja yang diangkatnya sebagai pejabat. Dengan bantuan para pejabat yang bertakwa, berilmu, jujur, amanah dan ahli di bidangnya tersebut khalifah mampu menegakkan kebenaran dan keadilan.
Salah satu pejabat yang diangkat oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah Maimun bin Mihran Al-Jazari. Semula Maimun bin Mihran Al-Jazari adalah seorang budak yang kemudian dimerdekakan oleh tuannya di Kufah. Setelah merdeka, Maimun bin Mihran giat menuntut ilmu hingga menjadi seorang ulama besar. Ia kemudian menetap di kota Raqqah, Irak.
Read more...

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam #11: Cukup enam kalimat saja

0 komentar


(Arrahmah.com) -  Ini adalah kisah dialog antara seorang guru dan murid tentang saripati pelajaran yang bisa dipetik oleh si murid selama bertahun-tahun belajar kepada sang guru. Dialog ini bak ujian akhir kelulusan bagi si murid.
Bertindak sebagai guru dalam kisah ini adalah seorang ulama yang shalih, ahli ibadah dan zuhud di kota Balkh, Afgahnistan bernama Syaqiq bin Ibrahim Al-Balkhi. Adapun murid yang sekian tahun belajar kepadanya adalah Hatim Al-Asham bin Unwan bin Yusuf Al-Balkhi.
Syaqiq bin Ibrahim Al-Balkhi bertanya, "Sejak engkau menemaniku, ilmu apa saja yang telah engkau pelajari dariku?"
Hatim bin Unwan Al-Balkhi menjawab, "Enam perkara. Pertama, aku melihat orang-orang berada dalam keraguan tentang urusan rizki mereka. Maka aku pun bertawakal (berserah diri kepada Allah setelah bekerja mencari nafkah) kepada Allah semata, sebab Allah Ta'ala telah berfirman,
{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا}
"Dan tidak ada seekor binatang pun yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rizkinya." (QS. Hud [11]: 6)
Read more...

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam #10: Belajar santun dan memaafkan

0 komentar


(Arrahmah.com) – Laki-laki itu menuntun seekor unta dengan kasar. Tangannya menarik tali kekang untanya dengan keras, sementara mulutnya tak pernah berhenti memaki si unta. Nampaknya si unta menahan sakit, terlihat sebelah matanya keluar dari kelopaknya sampai menempel di pipinya. Sebelah wajah si unta telah basah oleh aliran darah.
Kejadian di siang bolong itu menggemparkan penduduk Bashrah. Mereka geleng kepala melihat sosok laki-laki itu dan unta yang diseretnya. Sangat kontras. Betapa tidak, sedangkan nilai laki-laki yang menyeret unta dengan unta yang diseret itu jauh tidak sebanding. Jangan keliru, unta itu adalah unta kesayangan pemiliknya. Adapun laki-laki yang menyeretnya bukanlah pemilik unta, tapi seorang budak miliki si pemilik unta!
Kontan saja masyarakat Basrah satu sama lain saling berbisik, "Wah, hari ini tamat sudah riwayat budak tak tahu diri ini."
Kegaduhan di depan sebuah rumah di kota Basrah itu mengundang si pemilik rumah untuk keluar ke halaman. Begitu ia keluar rumah, di hadapannya sudah berkerumun banyak orang. Para tetangga, budak miliknya dan unta kesayangannya dalam kondisi mengenaskan. Orang yang baru saja keluar dari dalam rumah itu memang pemilik si unta dan tuan dari si budak penyeret unta.
Dalam kondisi seperti itu, seorang tuan tentu wajar apabila marah dan naik pitam. Tentu biasa apabila seorang tuan membentak budaknya dan mencercanya dengan rentetan pertanyaan. Kenapa engkau berteriak-teriak dan memaki-maki? Kenapa mata unta kesayanganku sampai keluar dari kelopaknya? Siapa yang mencederai unta kesayanganku? Bagaimana kamu menjaga unta kesayanganku? Dan pertanyaan-pertanyaan dengan nada menyalahkan lainnya.
Di luar dugaan si budak dan para tetangga yang mengerumuninya, si tuan pemilik unta kesayangan itu memberikan reaksi yang sangat mengejutkan. Kalimat yang diucapkannya sungguh luar biasa. Dengan tenang dan penuh wibawa, tuan si budak sekaligus pemilik unta kesayangan itu mengatakan:
سُبْحَانَ اللهِ، أَفَلاَ غَيْرَ الوَجْهِ، بَاركَ اللهُ فِيْكَ، اخْرُجْ عَنِّي، اشْهَدُوا أَنَّهُ حُرٌّ.
"Subhanallah (Maha Suci Allah). (Jika engkau memukul) kenapa tidak pada selain wajah? Semoga Allah memberkatimu, pergilah engkau dariku dan saksikanlah oleh kalian semua bahwa ia aku merdekakan!"
Sungguh jawaban yang hebat. Tidak ada caci maki, bentakan dan emosi sedikit pun dalam kalimat yang keluar dari mulutnya. Ia juga tidak melayangkan tangannya untuk memukul budaknya, atau melayangkan kakinya untuk menendangnya, apalagi memuntahkan ludahnya ke wajah budaknya.
Kalimat yang pertama keluar dari mulutnya justru kalimat dzikir yaitu tasbih, subhanallah. Kalimat kedua adalah sebuah pengajaran: jika terpaksa harus memukul, hendaknya memukul di daerah selain wajah dan jangan sampai melukai. Kalau terpaksa harus memukul, hendaknya pukulan ringan sebagai peringatan dan nasehat, bukan pukulan pelampiasan dendam.
Kalimat ketiga adalah sebuah doa bagi si budak yang telah berbuat salah itu, baarakallahu fiika,semoga Allah memberkahimu. Kalimat keempat adalah kedermawanan, ia memerdekakan si budak yang berbuat salah tersebut secara cuma-cuma, tanpa tebusan dan syarat apapun, detik itu juga, dan seluruh tetangga yang berkerumun di depan rumah itu menjadi saksinya.
Saudaraku seislam dan seiman….
Anda mungkin bertanya-tanya dalam hati, apakah kisah di atas sebuah cerita fiktif belaka ataukah benar-benar pernah terjadi? Jika memang kejadian nyata, siapa sosok si tuan yang penyabar, penyantun, pemaaf dan dermawan tersebut?
Kisah di atas benar-benar pernah terjadi tiga belas abad yang lalu di kota Bashrah. Si tuan pemilik budak dalam kisah di atas adalah seorang ulama dan ahli ibadah generasi tabi'in yang sangat dibanggakan oleh dunia Islam pada zamannya. Ia adalah imam Abdullah bin Aun bin Arthaban Al-Muzani. Beliau dilahirkan pada tahun 66 H di kota Bashrah dan wafat pada bulan Rajab 151 H. Unta kesayangan itulah yang senantiasa mengantarkannya ke medan jihad di bumi Syam dan haji ke baitullah di Makkah. 
Ulama hadits dan sejarawan Islam, imam Adz-Dzahabi menulis tentang sosok imam Abdullah bin Aun, "Al-imam (sang ulama), al-qudwah (sang teladan), ulama Bashrah, Abu Aun maula suku Muzani, orang Bashrah, al-hafizh (ulama hadits yang hafal puluhan ribu hadits). Ia adalah salah seorang ulama yang memadukan ilmu dan amal." (Siyar A'lam An-Nubala', 6/365-366)
Kedalaman ilmunya diakui oleh para ulama besar generasi tabi'in dan tabi'it tabi'in. Imam Al-Awza'i, Syu'bah bin Hajjaj, Abdurrahman bin Mahdi, Abdullah bin Mubarak, Yahya bin Ma'in dan lain-lain mengakuinya sebagai salah satu ulama hadits, tafsir, qira'ah dan fiqih paling hebat di Irak pada masanya.
Kesungguhan ibadahnya, penjagaan lisannya, kesantunan, pemaafan dan kedermawanannya juga diakui oleh semua penduduk Bashrah.
Al-Qa'nabi berkata, "Ibnu Aun tidak pernah marah. Jika ada seseorang yang membuatnya marah, ia hanya berkata: "Semoga Allah memberkatimu."
Salam bin Abi Muthi' berkata, "Ibnu Aun adalah orang yang paling bisa menjaga lisannya."
Kharijah bin Mush'ab berkata, "Aku telah menemani Ibnu Aun selama 24 tahun. Selama itu aku tidak pernah melihat malaikat (layak) mencatat satu kesalahan pun bagi dirinya." (Siyar A'lam An-Nubala', 6/366)
Sifat-sifat mulia itu tidak heran disandang oleh imam Abdullah bin Aun. Dalam hidupnya ia memegang erat nasehatnya sendiri, "Menyebut-nyebut manusia itu adalah penyakit, adapun menyebut-nyebut Allah (dzikir) itu adalah obat."
Lembaran kehidupannya sungguh penuh dengan catatan ilmu dan amal. Imam Adz-Dzahabi meringkas komentarnya tentang imam Abdullah bin Aun dengan menulis, "Sungguh Ibnu Aun telah dikaruniai sifat santun dan ilmu dan jiwanya suci membantu dirinya untuk menjadi orang yang bertakwa. Sungguh beruntunglah ia." (Siyar A'lam An-Nubala', 6/369)
Saudaraku seislam dan seiman…
Banyak hikmah bisa kita petik dari kehidupan imam Abdullah bin Aun Al-Muzani, jika saja kita menyempatkan diri untuk mengkaji secara lengkap kehidupan beliau dan merenungkannya. Sengaja kita hanya mencuplik sepenggal kisah nyata dari kehidupan beliau, agar kita bisa belajar menumbuhkan sifat santun, pemaaf dan dermawan di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan Allah ini.
Puasa di bulan Ramadhan bukan sarana untuk membiasakan lapar dan dahaga semata. Ia juga merupakan sarana untuk mengendalikan emosi dan hawa nafsu agar sejalan dengan tuntunan wahyu Allah. Kemarahan, dendam, iri hati, dengki, sombong, dan penyakit-penyakit hati lainnya harus disucikan. Sifat-sifat utama seperti pemaaf, penyantun dan dermawan harus ditumbuhkan dan dibiasakan.
Jika hal itu berhasil dilakukan oleh orang yang berpuasa Ramadhan, niscaya kehidupan di luar bulan Ramadhan akan lebih indah dan penuh warna. Sifat-sifat utama tersebut adalah cirri-ciri utama kaum yang bertakwa, sementara tujuan finish berpuasa adalah mengantarkan kepada derajat takwa. Maha Benar Allah dengan firman-Nya,
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran [3]: 133-134)
Allah Ta'ala juga telah menjanjikan balasan yang sangat menggiurkan dan janji Allah tidak pernah diingkari-Nya,
أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (QS. Ali Imran [3]: 136)  
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi:
Adz-Dzahabi, Siyaru A'lam An-Nubala', 6/364-375, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 3, 1405 H
(muhib almajdi/arrahmah.com)
Read more...

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam #9: Petuah rohani sang ulama robbani

0 komentar


(Arrahmah.com) - Obat hati ada lima perkaranya. Yang pertama baca Qur'an dan maknanya. Yang kedua, shalat malam dirikanlah. Yang ketiga, berkumpullah dengan orang shalih. Yang keempat, perbanyaklah berpuasa. Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.
Jauh sebelum bait-bait nasehat itu populer lewat nyanyian Opick, jama'ah di masjid-masjid dan mushala-mushala telah melantunkannya dalam shalawatan sesudah adzan. Mereka mendapatkan lantunan nasehat emas itu dari para kyai di pesantren-pesantren tradisional. Tidak banyak umat Islam yang mengetahui bahwa usia nasehat itu lebih tua dari para kyai dan pesantren tradisional di tanah air kita. Nasehat bijak itu bahkan telah berusia lebih dari 1100 tahun!
Para sejarawan Islam mencatat bahwa nasehat bijak itu diucapkan oleh seorang ulama, ahli ibadah, penceramah dan tabib rohani yang senantiasa memberikan mutiara nasehat kepada kaum muslimin di kota Naisabur, Iran. Nama ulama dan ahli ibadah tersebut adalah Yahya bin Mu'adz bin Ja'far Ar-Razi, biasa dipanggil dengan sebutan Abu Zakaria Ar-Razi.
Read more...

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam #8: Thuma'ninah dalam shalat

0 komentar


(Arrahmah.com) – Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa pada suatu hari, seorang sahabat masuk ke dalam masjid. Saat itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam juga tengah berada dalam masjid, tepatnya di sudut masjid. Sebagai penghormatan terhadap masjid, sahabat tersebut melakukan shalat sunnah dua raka'at tahiyyatul masjid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam memperhatikan shalat sahabat tersebut.
Usai mengerjakan shalat, sahabat itu mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam menjawab:
وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ، ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
 "Wa'alaikas salam. Tolong ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!"
Sahabat itu kaget dengan perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Setahunya, ia telah mengerjakan shalat sejak takbir sampai salam dengan tertib sebanyak dua raka'at. Ia sangat ingat, barusan ia telah mengerjakan shalat. Mungkinkah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam tadi tidak melihat shalatnya sehingga beliau menyabdakan seperti itu? Namun ia tidak berani membantah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Dengan tanda tanya dalam hati, ia kerjakan juga perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Ia mengulangi shalatnya kembali, secara tertib dari takbir sampai salam, sebanyak dua raka'at.
Read more...

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam #7: Kesungguhan ulama dalam mencari ilmu

0 komentar


(Arrahmah.com) – Para sahabat, tabi'in dan generasi salaf memiliki kesungguhan yang luar biasa dalam menuntut ilmu. Mereka rela bersusah payah dan mengadakan perjalanan yang jauh demi mendapatkan penafsiran sebuah ayat atau meriwayatkan sebuah hadits dari seorang ulama.
Inilah kisah ulama besar dan ahli ibadah generasi tabi'in, Masruq bin Ajda' Al-Hamdani Al-Kufi (wafat tahun 63 H). Ia adalah murid senior sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu di kota Kufah. Imam Asy-Sya'bi berkata tentang Masruq bin Ajda' Al-Kufi, "Saya tidak melihat orang yang lebih rajin menuntut ilmu melebihi Masruq." Imam Ibnu Abdil Barr Al-Maliki dalam Jami'u Bayanil Ilmi wa Fadhlihimenulis, "Imam Masruq mengadakan perjalanan jauh demi mendengar satu kalimat (ayat atau hadits). Demikian juga imam Abu Sa'id ---Hasan Al-Bashri--- mengadakan perjalanan jauh demi mendengar satu kalimat (ayat atau hadits)."
Read more...